Sunday, June 13, 2010

Video Ariel

Video Panas Ariel (mirip)
Sekali lagi bumi Indonesai digoncang oleh Isu pornografi. Sebuah video dengan durasi yang spektakuler, pemain spektakuler dan penyebaran yang spektakuler pula. Luar biasa memang media mem-blow up peristiwa ini dari media cetak hingga media Elektronik.
Bila sudah seperti ini, siapa yang akan bertanggungjawab, siapa yang patut dituding menjadi pelaku, si pemeran, pengedar atau media? Sebuah pertanyaan besar yang tanpa sadar telah dan akan melanda dunia entertaint. Bila kita mengacu pada pelaku yang 'ternyata' memiliki kemiripan dengan aktor, penyanyi terkenal kita, yaitu Ariel yang sampai saat ini masih berada di group musik Peterpan. Kabar angin dari negara luar, gosip di Indonesia adalah makan sehari-hari dan sudah menjadi konsumsi publik setelah makanan. Bahkan ada yang rela meluangkan waktu pentingnya, hanya untuk menyaksikan berita gosip seputar artis yang formatnya tak jauh beda antara setiap tv swasta. Bisakah kita menyalahkan pemeran yang sekaligus produser video syuur tersebut?
Penulis terlebih dahulu membuat perbandingan dengan diri sendiri. Seorang (yang diduga) laki-laki dengan kualitas 'lebih' dalam segala hal, telah mendokumentasikan perhelatannya dalam dunia seks dengan detail. Pria itu berpasangan dengan wanita yang tak kalah tenar, yaitu dengan artis yang (diduga) Luna Maya dan Cut Tari. Sejauh yang penulis saksikan, dengan pengetahuan awamya tentang IT, rasanya video itu memang mereka pelakunya. Belakangan malah tersebar kabar bahwa video-video itu masih ada seri lanjutannya dengan artis wanita yang lain sekitar 23 lagi. Wah.. betapa hebatnya si pria bak kumbang penghisap madu. Rasanya sah aja, bila tidak dikaitkan dengan publikasi berlebihan, pendokumentasian dan penekanan media.
Dari sisi penyebarnya, penulis tidak memberikan nilai positif sama sekali, bejat memang. Tapi setitik nilai tetaplah ada, walaupun itu sisi lain. Dari potongan video tersebut, memberikan gambaran penting bahwa dunia artis mungkin saja memang seperti itu. Merupakan masukan bagi artis pendatang baru dan insan-insan yang mempunyai rencana memasuki dunia artis. Bahwa kondisi seperti itu sangat munkin mengenai siapa saja, terlebih bila kita sudah merupakan bagian dari artis itu sendiri. Dengan kata lain jika kenyataan hidup kita menentukan kita untuk menjadi artis, tidak ada salahnya menjaga hal-hal semacam ini.
Dari segi media, sepertinya (penulis) dirasakan berlebihan dalam melakukan liputan, baik frontal maupun investigasi, Penulis menyarankan kepada media untuk tetap menjaga kode etik jurnalistik, menjaga juga privasi seseorang tapi tetap setia menjadi panduan utama rakyat Indonesia.
Jika semua pihak sudah berjalan sesuai porsinya, sepertinya itu bukan masalah lagi. Dan jika pelaku memang bersalah, kita toh punya aparat kepolisian dan kejaksaan yang siap memberikan kontribusi demi keadilan masyarakat.


Salam
Jakarta, 13 Juni 2010

Thursday, October 15, 2009

Kenapa harus resah

Kenapa harus resah?

Kamis 15 Oktober 2009

Belakangan ini Indonesia di gemparkan oleh kedatangan Aktris Jepang yang berlatarbelakang pemain film "panas". Beberapa situs tentang dia banyak membahas tentang hidup dan biografinya. Secara singkat, kurang lebih Miyabi atau yang di dunia perfilman dikenal dengan nama Maria Ozawa, adalah 'gadis' yang berumur 20-an dan punya latar kehidupan tidak menyenangkan, berasal dari keluarga yang kurang mampu dan harus menghidupi keluarganya, maka diapun menjadi artis yang sensasional dengan film-filmnya.
Ada yang menyatakan dia sudah taubat, tapi ada pula yang mengatakan bahwa tobatnya masih berbalut dengan nilai politis tentang kepopuleran.
Pro dan kontra tentang kedatangannya ke negeri kita begitu keras, bermacam demo menentang kedatangannya juga merebak di minggu ini. Adat ketimuran dan agama tidak meng'iya'kan kedatangannnya walaupun dengan segudang alasan.
Berbicara masalah setuju dan tidak setuju, penulis berpendapat bahwa bila ditanya setujukah? maka penulispun akan bertanya lagi," memangnya kenapa? Kalau dia mau datang, datang aja, kalau mau produksi film disini silakan saja... tapi semua harus sesuai prosedur. Bukankah prosedur kaitannya adalah uang? Maka walaupun di demo beratus kali, bila pejabat berwenang mengizinkan, ya kita ini yang bertindak sebagai rakyat jelata cuma bisa pasrah. Kalau Miyabi ditolak, kenapa yang lain tidak, seperti presiden Bush (yang sangat kejam membantai rakyat Irak) dan yang lainnya dengan dosa politik ataupun dosa sosial.
Bukti diatas jelaslah menandakan bahwa, mengapa kita harus resah? Toh kita punya bapak-bapak pejabat yang 'dipercaya' memberikan pengayoman kepada rakyat. Merekalah yang nantinya akan bertanggungjawab akan efek yang terjadi. Penulis merasa setuju dengan penentangan Miyabi ke Indonesia, tapi sekali lagi, rakyat saat ini bukanlah Desition Maker yang berhak menentukan bisa/tidak, boleh/tidak atau layak/tidak.
Cara terbaik adalah membentengi diri kita dengan bekal pengetahuan dan akhlak positif dalam menyikapi sesuatu, karena gejolak yang ditandai dengan kontak fisik, pemaksaan kehendak apalagi anarkisme bukan juga merupakan budaya kita. Budaya ketimuran dan Akidah Islamiyah yang kita ingin tegakkan janganlah kita kotori dengan tindakan-tindakan yang sama dengan yang kita tentang. Bila itu terjadi, maka kita tidaklah berbeda dengan hal-hal yang kita ingin tegakkan tadi.

Wassalam
Gulfi Y Mukti
gulovsky@gmail.com

Berikut saya unduh beberapa artikel yang menarik untuk dibaca;

Maria Ozawa Batal ke IndonesiaSurabaya, 14 Oktober 2009 07:50
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ad-Interim, M Nuh, membatalkan kehadiran bintang film asal Jepang Maria Ozawa ke Indonesia.Antara melaporkan, pembatalan itu disampaikan M Nuh saat memanggil produser dan sutradara film Menculik Miyabi di kantornya di Jakarta, Selasa (13/10).M Nuh yang juga Menteri Komunikasi dan Informatika itu meminta Odi Mulya Hidayat dari Maxima Pictures, selaku produser film layar lebar tersebut untuk menerima pembatalan kehadiran bintang film porno yang mengundang kontroversial di masyarakat itu.Dalam pertemuan itu, Maxima Pictures sudah memastikan untuk membatalkan kehadiran Maria Ozawa yang lebih dikenal di Tanah Air dengan julukan Miyabi, demi menghindari kontroversial yang berkembang di masyarakat, sehingga tidak akan menambah persoalan.Menurut Odi, pihaknya terpaksa membatalkan kehadiran Maria Ozawa dan menunda penggarapan film Menculik Miyabi karena derasnya protes terhadap film itu, sehingga pihaknya tidak akan memaksakan kedatangan Maria Ozawa.Keinginan Maxima Pictures itu disambut baik oleh M Nuh, karena bangsa ini memang tidak ingin disibukkan dengan persoalan-persoalan yang sesungguhnya bisa diselesaikan dengan jalan baik-baik.Sebelumnya, M Nuh mengibaratkan persoalan kedatangan Maria Ozawa ke Indonesia itu seperti "penjahat" atau "pencuri" yang ingin datang dan shalat ke masjid, sehingga tidak perlu dilarang, karena kehadirannya tidak untuk mencuri atau melakukan kejahatan, sehingga boleh-boleh saja.Namun, sebaliknya, jika ada orang yang nyata-nyata datang ke masjid untuk melakukan tindak kejahatan, sudah seharusnya sejak awal dilarang, meski dia sebelumnya orang yang baik-baik saja.Tapi, jika kehadirannya mengundang kontroversi yang berkepanjangan dan tidak produktif, maka sudah seharusnya dibatalkan. [EL, Ant]
URL: http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=131086

Maria boleh datang....
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati tidak melarang bintang porno asal Jepang Maria Ozawa atau Miyabi mengunjungi pulau dewata Bali.Tetapi hanya sebatas sebagai wisatawan pada umumnya. "Bila datang sebagai wisatawan, silahkan kami tidak melarang siapapun yang akan datang ke Bali untuk berlibur. Tapi kalau ada tujuan lain, nanti dulu," kata Cok Ace, sapaan akrabnya yang juga Bupati Gianyar saat ditemui VIVAnews, Rabu, 14 Oktober 2009.Miyabi direncanakan akan datang ke Indonesia pada 14 Oktober kemarin. Namun, kedatangan Miyabi dibatalkan oleh rumah produksi yang akan menjadikan Miyabi sebagai bintang dalam filmnya.Selain itu walaupun batal, ke Indonesia bukan berarti Miyabi tak jadi mendukung film yang akan disutradarai oleh Rako Prijanto tersebut. Ody tetap akan menggunakan Miyabi di film tersebut."Film akan tetap menggunakan Miyabi. Itu tidak berubah," ucap Ody dengan yakin.Skenario film 'Menculik Miyabi' pada awalnya akan ditulis oleh Raditya Dika. Tetapi, di tengah jalan, penulis skenarionya diganti dengan Raditya Mangunsong.Tak hanya itu, Raditya Dika yang seharusnya menjadi pemeran utama dalam film tersebut mengundurkan diri karena dia tak mau satu film dengan artis porno asal Jepang tersebut.Rencananya film 'Menculik Miyabi akan dirilis pada 31 Desember mendatang. Ody mengaku dengan banyaknya pro dan kontra soal kedatangan Miyabi sedikit mengganggu produksi film tersebut.• VIVAnews
http://reposaja.blogspot.com/2009/10/miyabi-boleh-datang-ke-bali-asalkan.html

Friday, February 20, 2009

sayuran







cancer my zodiak

Survey AGBnielsen

Sejalan dengan perkembangan Iptek, di Indonesia sepertinya sudah saatnya mempunyai suatu badan yang meng-audit segala sesatu mengenai perkembangan teknologi. Perkembangan yang sangat pesat adalah pada sektor komunikasi, dimana media sesuai dengan sifatnya, menjadi pengaruh besar terhadap kenajuan itu sendiri. Seberapa jauh kemajuan itu bisa kita jumpai pada pusat-pusat informasi, seperti internet, televisi, radio ataupun media massa non elektronik seperti majalah dan surat kabar.
Dalam hal televisi, Indonesia juga sangat maju karena sifatnya yang audio visual. Masyarakat dari seluruh lapisan, bisa dipastikan mengisi sebagian hidupnya di depan pesawat televisi. Lalu para media owner sebagai penyedia layanan televisi swasta, saling berebut kue pasar pemirsa. Pemirsapun tanpa filter yang jelas, terus saja memjejali diri dengan semua informasi, mulai dari informasi benar sampai yang kelabu hingga yang benar-benar wasting time.
Lalu, apakah media owner sebagai penyedia layanan sudah menyediakan porsi yang layak bagi pemirsanya? Hal ini masih menjadi polemik para pakar media. Penulis merasakan sikap Profit Oriented sangat dikedepankan dalam memilih tayangan dan menomorduakan kepentingan publik sebagai konsumen utama penyiaran televisi.
Adalah Nielsen Corp. yang pandai membaca situasi negeri kita, sehingga mereka membuat survey yang mengambil responden pemirsa secara langsung dengan metode peoplemeter-nya. Akurat atau tidaknya survei ini, yang jelas Nielsen Corp. yang di Indonesia disebut AGBnielsen itu sudah menjadi panutan para media owner, produsen iklan dan pembuat tayangan televisi. Dengan acuan Rating & Share yang dikeluarkan AGBnielsen setiap periode yang ditentukan, para punggawa televisi itu mengatur strategi untuk tayangan yang menghasilkan banyak pundi rupiah. Bagaimana dengan nasib pemirsa?
Yang terjadi adalah tayngan apapun bila itu menguntungkan, pasti akan ditayangkan dan bahkan akan di re-run program tersebut bila memang keuntungan yang didapat melebihi target. Keluguan masyarakat kita yang dengan polosnya menyaksikan acara televisi yang disuguhkan membuat para media owner tertawa terbahak-bahak..... lalu olok-olok keluar dari mulut mereka, "bodohnya pemirsa itu...!!!
Sakit, hati penulis rasanya, bagaimana dengan para pembaca? So, tunggu apa lagi, sudah saatnya kita memilih acara yang sesuai dengan kebutuhan kita, jangan mudah terprovokasi dan dampingi anak-anak kita dalam menonton televisi.


Jakarta, 20 Februari 2009
Gulfi Yoniar Mukti

Monday, February 16, 2009

Gelophy Gulovsky or.. whatever..


Tempat Share segala macam text, video, software, image, puisi ato apa aja yg pengen share dengan semua member blog.