Sejalan dengan perkembangan Iptek, di Indonesia sepertinya sudah saatnya mempunyai suatu badan yang meng-audit segala sesatu mengenai perkembangan teknologi. Perkembangan yang sangat pesat adalah pada sektor komunikasi, dimana media sesuai dengan sifatnya, menjadi pengaruh besar terhadap kenajuan itu sendiri. Seberapa jauh kemajuan itu bisa kita jumpai pada pusat-pusat informasi, seperti internet, televisi, radio ataupun media massa non elektronik seperti majalah dan surat kabar.
Dalam hal televisi, Indonesia juga sangat maju karena sifatnya yang audio visual. Masyarakat dari seluruh lapisan, bisa dipastikan mengisi sebagian hidupnya di depan pesawat televisi. Lalu para media owner sebagai penyedia layanan televisi swasta, saling berebut kue pasar pemirsa. Pemirsapun tanpa filter yang jelas, terus saja memjejali diri dengan semua informasi, mulai dari informasi benar sampai yang kelabu hingga yang benar-benar wasting time.
Lalu, apakah media owner sebagai penyedia layanan sudah menyediakan porsi yang layak bagi pemirsanya? Hal ini masih menjadi polemik para pakar media. Penulis merasakan sikap Profit Oriented sangat dikedepankan dalam memilih tayangan dan menomorduakan kepentingan publik sebagai konsumen utama penyiaran televisi.
Adalah Nielsen Corp. yang pandai membaca situasi negeri kita, sehingga mereka membuat survey yang mengambil responden pemirsa secara langsung dengan metode peoplemeter-nya. Akurat atau tidaknya survei ini, yang jelas Nielsen Corp. yang di Indonesia disebut AGBnielsen itu sudah menjadi panutan para media owner, produsen iklan dan pembuat tayangan televisi. Dengan acuan Rating & Share yang dikeluarkan AGBnielsen setiap periode yang ditentukan, para punggawa televisi itu mengatur strategi untuk tayangan yang menghasilkan banyak pundi rupiah. Bagaimana dengan nasib pemirsa?
Yang terjadi adalah tayngan apapun bila itu menguntungkan, pasti akan ditayangkan dan bahkan akan di re-run program tersebut bila memang keuntungan yang didapat melebihi target. Keluguan masyarakat kita yang dengan polosnya menyaksikan acara televisi yang disuguhkan membuat para media owner tertawa terbahak-bahak..... lalu olok-olok keluar dari mulut mereka, "bodohnya pemirsa itu...!!!
Sakit, hati penulis rasanya, bagaimana dengan para pembaca? So, tunggu apa lagi, sudah saatnya kita memilih acara yang sesuai dengan kebutuhan kita, jangan mudah terprovokasi dan dampingi anak-anak kita dalam menonton televisi.
Jakarta, 20 Februari 2009
Gulfi Yoniar Mukti