Video Panas Ariel (mirip)
Sekali lagi bumi Indonesai digoncang oleh Isu pornografi. Sebuah video dengan durasi yang spektakuler, pemain spektakuler dan penyebaran yang spektakuler pula. Luar biasa memang media mem-blow up peristiwa ini dari media cetak hingga media Elektronik.
Bila sudah seperti ini, siapa yang akan bertanggungjawab, siapa yang patut dituding menjadi pelaku, si pemeran, pengedar atau media? Sebuah pertanyaan besar yang tanpa sadar telah dan akan melanda dunia entertaint. Bila kita mengacu pada pelaku yang 'ternyata' memiliki kemiripan dengan aktor, penyanyi terkenal kita, yaitu Ariel yang sampai saat ini masih berada di group musik Peterpan. Kabar angin dari negara luar, gosip di Indonesia adalah makan sehari-hari dan sudah menjadi konsumsi publik setelah makanan. Bahkan ada yang rela meluangkan waktu pentingnya, hanya untuk menyaksikan berita gosip seputar artis yang formatnya tak jauh beda antara setiap tv swasta. Bisakah kita menyalahkan pemeran yang sekaligus produser video syuur tersebut?
Penulis terlebih dahulu membuat perbandingan dengan diri sendiri. Seorang (yang diduga) laki-laki dengan kualitas 'lebih' dalam segala hal, telah mendokumentasikan perhelatannya dalam dunia seks dengan detail. Pria itu berpasangan dengan wanita yang tak kalah tenar, yaitu dengan artis yang (diduga) Luna Maya dan Cut Tari. Sejauh yang penulis saksikan, dengan pengetahuan awamya tentang IT, rasanya video itu memang mereka pelakunya. Belakangan malah tersebar kabar bahwa video-video itu masih ada seri lanjutannya dengan artis wanita yang lain sekitar 23 lagi. Wah.. betapa hebatnya si pria bak kumbang penghisap madu. Rasanya sah aja, bila tidak dikaitkan dengan publikasi berlebihan, pendokumentasian dan penekanan media.
Dari sisi penyebarnya, penulis tidak memberikan nilai positif sama sekali, bejat memang. Tapi setitik nilai tetaplah ada, walaupun itu sisi lain. Dari potongan video tersebut, memberikan gambaran penting bahwa dunia artis mungkin saja memang seperti itu. Merupakan masukan bagi artis pendatang baru dan insan-insan yang mempunyai rencana memasuki dunia artis. Bahwa kondisi seperti itu sangat munkin mengenai siapa saja, terlebih bila kita sudah merupakan bagian dari artis itu sendiri. Dengan kata lain jika kenyataan hidup kita menentukan kita untuk menjadi artis, tidak ada salahnya menjaga hal-hal semacam ini.
Dari segi media, sepertinya (penulis) dirasakan berlebihan dalam melakukan liputan, baik frontal maupun investigasi, Penulis menyarankan kepada media untuk tetap menjaga kode etik jurnalistik, menjaga juga privasi seseorang tapi tetap setia menjadi panduan utama rakyat Indonesia.
Jika semua pihak sudah berjalan sesuai porsinya, sepertinya itu bukan masalah lagi. Dan jika pelaku memang bersalah, kita toh punya aparat kepolisian dan kejaksaan yang siap memberikan kontribusi demi keadilan masyarakat.
Salam
Jakarta, 13 Juni 2010
